First blog in 2017

I just re-direct my personal journal, I would like to have more inspirational web blog.

post

Advertisements

Rencana

Pernah gak, kamu pengguna media sosial, berpikir untuk menceritakan kegiatan dimanapun, kapanpun, bagaimanapun didalam blog dengan menuliskan tips-tips yang cukup informatif? Karena saya baru mau memulainya, itupun setelah diniatkan lebih dari satu tahun…iyaa..iya…sudah lama, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali *pembenaran*.

Ide tersebut tercetus ketika saya ketolong banget oleh teknologi internet dalam bekerja dan ketika sekalipun kesulitan mencari informasi. Dan biasanya yang seringkali menolong adalah tulisan-tulisan dari blog orang-orang kreatif yang dengan kemampuannya berbagi ilmu dan informasi.

Untuk itu, tulisan-tulisan dalam blog saya akan lebih informatif.

Kisah

Sekelumit kisah,

membekas,

menyisakan kisah lainnya,

menunggu dilanjutkan.

Kisah membuat resah,

mengelupas,

dijalankan dengan penuh tanya,

belajar tanpa panutan.

Pulang ke rumah,

harap bebas lepas,

asa mengurungkannya,

karunia menjelma kisah tauladan.

-teruntuknya-

‘Tumpah’

Beberapa bulan berlalu, tulisan-tulisannya hanya muncul di kepala, tidak pernah tertulis di atas keyboard komputer maupun di atas kertas. Awalnya terasa biasa saja, tidak terlalu berpengaruh, hingga beberapa kali mengalami ‘salis = sakau menulis’ dan masih terus tidak diperdulikan.

Hingga kepala rasanya sangat penuh. Setelah dibaca, mungkin hasil tulisan-tulisannya sederhana, membingungkan dan tidakbermakna lebih bagi yang lain, tetapi tidak bagi si empunya pikiran, menumpahkan hampir seluruh isi pikiran merupakan salah satu jalan untuk berkomunikasi, paling tidak dengan jiwa sendiri.

Tidak semua insan dapat menuliskan apapun yang dirasakannya, tidak juga menceritakannya kepada insan lain, mereka mungkin dapat menumpahkan isi pikiran mereka dengan cara yang berbeda-beda, dari membuat kreasi seni, menari, berolah raga, makan (nah yang ini mungkin sering terdengar), dan masih banyak lagi cara-cara lainnya.

Berkomunikasi adalah sebuah kebutuhan setiap insan, jika mengalami kesulitan menumpahkannya, banyak yang pada akhirnya memilih untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, bicara dengan jiwa sendiri. Ketika sudah tidak mampu bicara dengan diri, keputusan terakhir adalah tidak memperdulikan apapun yang pikiran suarakan. Oh..jelas ini kadang bisa menjadi bentuk baik tetapi juga bisa menjadi bentuk penumpukkan yang menyebabkan depresi…

Hingga dalam suatu masa, sebuah kejadian menyentuh terjadi, seorang anak perempuan usia 6 tahun tidak mampu merangkai kata untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, hingga kepercayaan dirinya menjadi rendah dan seringkali membuat orang lain disekitarnya merasa kesal karena tidak mudah dipahami dan memahami anak tersebut. Setelah di perhatikan, ternyata ia tidak memiliki konsep berbahasa yang benar, ia mempelajari beberapa bahasa di usianya yang terlalu muda, hingga ia memiliki kebingungan bahasa. Alangkah frustrasinya anak tersebut.

Orang dewasa disekitarnya harus membantu si anak untuk berkomunikasi dengan satu bahasa, bahasa ibu yang didukung oleh lingkungan sekitarnya, hingga perlahan ia mampu memperbaiki caranya dalam berkomunikasi. Apapun cara yang ditempuh untuk menumpahkan isi pikiran, lakukanlah dengan lebih benar, benar bagi jiwa yang mengalaminya. Karena di dalam jiwa-jiwa yang kuat terdapat insan-insan yang sehat.

Selamat ‘menumpahkan’!!

Shoebox Project #5 with Love

30 Oktober 2010 yang lalu, shoebox project melaksanakan kegiatan yang ke 5, dan kegiatan ini untuk pertama kalinya saya ikuti, pertama kalinya sukarelawannya lebih banyak, pertama kalinya keluar kota, pertama kalinya kami bermalam 🙂

Bekerja bersama masyarakat dan anak-anak lingkungan sekitar yang menjadi korban gempa di Pengalengan Jawa Barat, kami mengecat meja kursi dan membuat dekorasi kelas sambil bersenang-senang.

Kegiatan ini tidak hanya menyisakan hasil yang mudah-mudahan bermanfaat bagi semuanya, tetapi juga menyisakan kenangan bertemu sahabat-sahabat baru yang menyenangkan.

Dari hal kecil yang kita perbuat memberikan tidak hanya rasa bahagia bagi yang menerima, tapi juga bagi yang memberikannya, itu sepenggal pesan yang dirasa dapat dari kegiatan shoebox project ke-5 ini.

Sampai ketemu dikegiatan shoebox project berikutnya 🙂

Kepergian yang lain

Dini hari itu, dikejutkan dengan berita yang menginformasikan; kami kehilangan salah satu anggota keluarga besar, Bu De Mien kami pergi untuk selamanya, dan inilah kepergian yang kedua dalam keluarga kami, setelah Mbah Kung.

Bu De terlihat sehat, sedikit kurang prima karena beliau sudah tidak muda. Setelah memaksa untuk tetap pergi mengunjungi salah satu anaknya diluar negeri sana, dengan kondisinya tiba-tiba semakin menurun, Bu De pergi untuk selamanya.

Meninggalkan kami semua, ibu, suami, anak, cucu, adik, ponakan, teman dan seluruh handai taulan, untuk lebih dulu menikmati peluk kasih penciptaNya.

Selamat jalan Bu De…

Pilihan Lain

Ketika kita berdoa untuk menjadi orang yang sabar dan kuat, kita diberikan banyak cobaan untuk melatih kesabaran dan kekuatan kita, banyak orang menyadari itu, tapi tiba-tiba menjadi lupa akan doanya sendiri…termasuk saya..

Ketika kita meminta petunjuk-petunjuk untuk meringankan langkah kita, kita tidak cukup peka untuk melihat petunjukNya…termasuk saya..

Ketika kita diberikan banyak pilihan, supaya kita bisa lebih menjadi manusia yang bertanggung jawab, yang kita pilih hanya yang menyamankan kita, bukan yang lebih meningkatkan keimanan kita…termasuk saya..

Ketika kita berjanji untuk mensyukuri apapun yang kita dapatkan, begitu hasilnya menyenangkan kita terlalu lupa untuk bersyukur dan terlalu sedih untuk bersyukur jika hasil tidak menyenangkan…termasuk saya..

Ketika kita menjadi sangat sombong karena yakin akan keputusan yang kita ambil kita menjadi lupa bahwa ada diriNya yang membantu kita untuk memilih…

Teeza

Pertama kali mendengar berita itu sudah beberapa jam berlalu dari kejadian, dan berita yang diterima kondisi kamu tidak terlalu parah. Saya kaget sekaligus langsung lega. Tapi saya langsung mencari-cari berita diinternet maupun tv, ternyata kejadian itu cukup menggemparkan.

Keesokkan harinya, berita yang diterima begitu menyakitkan, rasanya seperti ditinggal pergi, seperti disakiti dan ditinggalkan, saya tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa berpikir positif, setiap saya berpikir hanya hasil memilukan yang keluar dari pikiran-pikiran saya.

Ketika kamu dan rekan kamu harus kehilangan salah satu dari anggota badannya, saya dan banyak orang lain tidak bisa berbuat banyak selain hanya doa.

Kecelakaan yang menimpa kamu dan rekanmu meninggalkan bekas yang cukup dalam buat banyak orang, kami semua disini berdoa untuk kesembuhan, dan sekalipun untuk yang terbaik yang Allah SWT akan pilihkan untukmu. Saya menyerah kepada Allah SWT, saya tidak lagi mampu mencari jalan keluar yang lebih baik untuk kamu, hanya tanganNya yang mampu mengatasi, itu akhir dari doa saya.

Hari ini, Jumat ini, Ia memutuskan untuk mengurangi kesakitanmu, dengan memanggilmu lebih cepat, Ia si Maha Pencemburu, cemburu melihat kamu ditangisi, didoakan, diperhatikan banyak orang, disayang banyak orang, Ia ingin memiliki kamu lagi untuk selamanya.

Kesedihan saya berkurang, mungkin kesedihan yang lain juga, bukan…bukan karena kami senang kamu pergi, bukan kami tidak mau ikut membantu kamu nanti…kami hanya bisa merasakan bahwa kamu memang akan lebih baik jika bersamaNya…Selamat jalan Teeza Ariaputra, kami selalu mendoakanmu…Terima kasih Ya Rabb, kami relakan ia bersamaMu, terima kasih Engkau menyadarkan kami lagi dan menunjukkan kebesaranMu melalui Teeza…

Pilihan

Buat beberapa orang lebih senang memilih dekat dengan keluarga dengan penghasilan yang biasa, buat sebagian yang lain memilih bekerja jauh dari keluarga dengan penghasilan yang cukup luar biasa.

Karena pernah ada seseorang yang saya kenal, ia tidak mau pindah bekerja ke luar negeri untuk mendapatkan penghasilan yang ‘waah’ melebihi yang ia terima selama ini, ketika banyak sekali koleganya yang pindah. Ia memiliki anak-anak yang sudah bisa ditinggal jauh. Tapi pilihannya untuk tetap bertahan, karena ia merasa cukup, merasa besar karena perusahaan itu (walau perusahaan itu tidak bisa memberikan yang terbaik, yang seharusnya), merasa kehilangan waktunya untuk bisa berkumpul bersama keluarga, merasa tidak mau kehilangan untuk terus melihat perkembangan anak dan seluruh sanak saudaranya….

Sehingga beberapa waktu yang lain, rekan-rekan koleganya yang memilih untuk hengkang, membenarkan pilihannya, pilihan untuk tetap tinggal.

Sebuah dilema memang, jika pilihan baik untuk hengkang ada didepan mata, disaat yang lain kita juga berpikir apakah meninggalkan negeri sendiri dimasa sulitnya demi kebahagiaan kita sendiri membuat kita menjadi manusia yang kurang bersyukur?

Tapi mungkin juga bukan sebuah dilema, karena pilihan yang benar adalah selalu merasa cukup dan bersyukur, membuat pilihan berdasarkan hal yang paling tidak enak untuk dipilih berarti kita mampu melawan hawa nafsu.