Baik

Baru aja pagi ini saya dapatkan ide menulis status di facebook, “kalau kamu memaafkan artinya kamu sudah bisa menghilangkan kebencian didalamnya…siap?”, saya langsung di uji, saya dipertemukan dengan seseorang yang sudah tiga tahun ini menghilang wujud dan tanggungjawabnya. 

Setelah saya baca lagi status yang saya tulis sendiri diatas, saya semakin sadar, kalau ternyata saya sudah memaafkannya, ternyata saya mau dia bahagia dan saya tidak mau dia malu jika bertemu saya. 

Saya memaafkannya, saya sudah menghilangkan kebenciannya tapi saya tidak melupakannya. Itulah inti dari memaafkan. *tapi seingat saya, saya tidak pernah membencinya juga*

Jadi kalau ditanya lagi, apakah saya siap, InsyaAllah saya siap, terima kasih Allah, Engkau begitu baik pada saya.

Advertisements

Paham

Hmm? Agak sulit dipahami, sepertinya dirinya tidak pernah beda bagimu, tapi semua itu tidak pernah lagi kamu perlihatkan secara jelas. Dia tidak mudah memahami situasi ini, karena dirinya merasakan pengambilan secara paksa, dirinya merasa tidak dipahami, tapi disisi yang lain dirinya tidak berani banyak bicara, dirinya khawatir dianggap tidak bisa menerima jika saat ini kamu bahagia dengan caramu.

Dia terluka yang sampai saat ini ternyata belum sembuh, walaupun dia sedang mengobatinya, dia berusaha meyakini bahwa tidak pernah ada luka. 

Dia berpikir, melakukan, berharap dan belajar untuk bisa memahami, tidak mudah memang, dan mungkin tidak semuanya harus ada jawabannya saat ini. 

 

 

Jangan Bertindak Setengah Hati

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan tulisan menarik disebuah majalah yang sudah menemani hari-hari saya di suatu tempat 3 minggu terakhir ini, yup, cukup lama saya ditemani hanya dengan sebuah majalah. Karena saya hanya bersama majalah tersebut 3 menit sehari 😉

Mudah-mudahan tulisan dibawah ini akan memberikan pengetahuan baru buat semua, terutama pelaku 😀

Bgini nih tulisannya:

Sisa asap rokok ternyata tak pernah hilang. Namun, berkompromi dengan perokok bukanlah jalan pemecahan yang benar untuk tetap sehat.

Bahaya rokok tak hanya menyerang si perokok. Orang-orang didekatnya berisiko tak kalah tingginya terhadap smoking-related disease, seperti gangguan pernapasan, kanker, paru, sakit jantung, dan berbagai masalah kardiovaskular. Bahkan, tanpa perlu berada di dekat orang yang sedang merokok sekalipun, kita tetap bisa terekspos ratusan senyawa mematikan dari rokok. 

Riset membuktikan, pencemaran zat berbahaya yang berasal dari asap rokok ternyata tak berhenti saat si perokok meninggalkan ruangan. Sisa-sisa asap rokok akan “bersarang” di ruangan tersebut, bahkan sampai berhari-hari. Artinya, apabila kita beraktivitas di situ, tanpa sadar kita mengekspos diri terhadap senyawa seperti sianida hidrogen, butan, toluene, arsenik, timbal, karbon monooksida, serta zat-zat lain yang bersifat karsinogenik (pemicu kanker). 

Dalam jurnal Pediatrics edisi Januari lalu, para dokter dari Mass General Hospital for Children di Boston mengungkapkan fakta terbaru mengenai bahaya toksin rokok bagi anak. Hasil itu didapat setelah mereka melakukan survei kepada 1.500 rumah tangga di Amerika, selama September-November 2005. Sebanyak 65% orang bukan perokok setuju bahwa menghirup udara di ruangan bekas tempat merokok bisa membahayakan kesehatan anak-anak. Meskipun aktivitas merokok itu dilakukan sehari sebelumnya. Sementara dari golongan perokok, sebanyak 43% membenarkan pernyataan itu. Para peneliti berkesimpulan: Para perokok sadar bahwa sisa asap rokok yang mereka tinggalkan tetap dapat meracuni orang lain, terutama anak-anak.

“Sisa asap yang tak terlihat itulah yang kami sebut third-hand smoke,” terang dr. Jonathan P. Winickoff dari Harvard Medical School, ketua tim penulis hasil penelitian tersebut. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa anak-anak lebih berisiko terhadap third-hand smoke, dibandingkan orang dewasa. “Terutama jika salah satu orangtuanya perokok. Setiap kali bersentuhan dengannya, anak itu otomatis menghirup racun-racun rokok yang menempel di sekujur tubuhnya, “kata dr. Elisna Syahruddin, Ph.D.,Sp.P, dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat lama, berbagai zat beracun itu akan terpendam di dalam tubuh anak. “Ada zat yang menimbulkan efek cepat, dan ada juga yang lama, misalnya kanker. Yang pasti, pertumbuhan organ anak bias terganggu, dan di masa depan ia akan lebih cepat terkena smoking-related didease” tambah dr. Elisna.

CIPTAKAN UDARA BERSIH

Untuk melindungi si kecil dari bahaya asap rokok, kita harus menciptakan udara di rumah bebas asap rokok. Tak boleh ada anggota keluarga yang merokok. Tak ada cara lain. Selama ini, kita sering menganggap upaya menghindakan anak dari menjadi perokok pasif sudah cukup. Ternyata, anggapan itu keliru. Ada beberapa situasi lain yang juga kita anggap aman, padahal sebenarnya tetap membahayakan kesehatan kita dan anak.

Di Mobil

Banyak orang merokok di mobil sambil membuka kaca jendela. Hal ini mereka lakukan agar asap rokok tak berkumpul di dalam mobil dan mengganggu penumpang lain. Padahal, senyawa dari asap rokok tak seluruhnya keluar jendela dan menyatu dengan udara. Sebagian pasti menempel di kursi, dinding, serta laingit-langit mobil. Maka, siapa pun yang duduk di dalam mobil itu pasti terekspos oleh racun-racun rokok.

Di Dalam Rumah

Agar bisa merokok di dalam rumah tanpa menyakiti anggota keluarga yang lain, banyak perokok mengandalkan kipas angin. “Mereka pikir, angin dapat menghilangkan asap rokok. Ini adalah pemahaman yang salah,” kata dr. Winickoff tegas. Sebaliknya, angin akan menyebarkan sisa asap rokok ke seluruh ruangan. Racun-racunnya bisa jadi lebih menempel di sofa, lantai, tirai, karpet, serta barang-barang lain di dalam rumah.

Di Halaman

Menghindarkan anak menjadi perokok pasif dengan cara merokok di luar rumah, juga tak menjamin anak-anak terbebas dari asapnya. Pertama, asap rokok tetap bisa tertiup angin dan masuk ke dalam rumah. Kedua, asap rokok akan menempel di rambut, wajah, baju, hingga kulit tangan perokok. Saat ia masuk ke dalam rumah, berarti ia membawa serta pula sisa-sisa racun yang melekat di tubuhnya.

Di Rumah Makan

Banyak rumah makan membedakan area untuk pelanggan yang ingin merokok, dengan yang tak mau menghirup asap rokok. Namun, terkadang pembagian itu tak didukung dengan pemisahan ruangan. Akibatnya, area bebas rokok pun tak sepenuhnya bersih dari asap rokok. Jika kita mengajak si kecil, sebaiknya pilih tempat duduk terjauh dari area merokok, untuk mengurangi jangkauan terpaan asapnya. Hal ini penting untuk melindungi dirinya dari second-hand smoke dan third-hand smoke.

 Di Pusat Perbelanjaan

Tanda dilarang merokok memang selalu terpampang di berbagai penjuru mal. Namun, kenyataannya, selalu saja ada orang tak bertanggungjawab yang mengabaikan, dan tetap merokok di sekitarnya. Artinya, area pusat perbelanjaan pun sebenarnya tak bebas dari asap rokok. Kondisi ini lebih berbahaya karena kita tak tahu wilayah mana saja yang telah tercemar sisa racun rokok. Maka, setiap kali pulang dari pusat perbelanjaan, sebaiknya kita segera membersihkan diri untuk mengikis berbagai racun yang mungkin saja melekat di tubuh kita, tanpa kita sadari.

CUCI TANGAN SAJA TAK CUKUP

Banyak cara yang dilakukan para perokok untuk melindungi orang-orang terdekatnya dari paparan racunnya. Mulai dari merokok di luar ruangan, hingga mencuci tangan dengan sabun setiap kali mereka selesai merokok. Hasil penelitian mengenai third-hand smoke yang diungkap awal tahun ini segera menangkis hal itu.

”Kalau cuma mencuci tangan, ya percuma. Satu-satunya cara membersihkan diri dari sisa-sisa asap rokok adalah dengan mandi!” ujar dr. Elisna. Namun, ia ragu para perokok bersedia untuk mandi setiap kali usai merokok. Maka, ia mengimbau agar sebaiknya mereka berhenti mengisap rokok saja. “Itu lebih realistis dan mempermudah hidup mereka,” ujarnya tegas. Yang pasti, tindakan itu akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari berbagai penyakit berbahaya yang timbul akibat asap rokok.

Sumber: Prevention Mei 2009 – Alia An Nadhiva

Menarik kan ulasan informasi ini, jadi…siap dimulai resolusinya sekarang..good luck!!

 

Sudah waktunya

Begitu baiknya Allah kepada saya, proses ini saya lewati tanpa segores luka, dilewati tidak dengan cucuran airmata. 

Dengan satu minggu tidak muncul ternyata saya diberikan kesempatan untuk terbiasa tidak bersama semua teman-teman dikantor. 

Sebelumnya, semua begitu terasa tiba-tiba dan seperti tidak pernah ada kata siap, respon teman-teman hampir berhasil memompa airmata saya untuk segera mengalir. 

Situasi ini serupa dengan yang pernah saya alami sebelumnya, dan ketika harus mengalaminya lagi, begitu enggan, tapi bisa lebih baik saya atasi.

Terima kasih buat semua waktu, kesempatan, kebahagiaan, ke-seru-an, semua marah, kesal, sedih, airmata, persahabatan dan persaudaraannya teman-teman. 

Makasih I-nah buat tulisannya, si Erika, penulis masa depan,  Uchaie teman kebersamaan, Rosje teman pertengkaran, Macil teman khusus praktek jadi orang galak, hehehe, saya masih ada teman…

Saya tidak akan kemana-mana, saya masih disini 🙂